{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

HARI LAHIR PANCASILA

(Rafli Hakim – Muhammad Fadlan)


Sejarah

Pancasila yang kita kenal tidak hanya sebatas dasar negara bangsa Indonesia, tetapi juga pandangan hidup seluruh rakyat dalam menjalani kehidupannya. Tercipta atas buah hasil pemikiran para bapak bangsa, Pancasila terus dijaga eksistensi dan nilai-nilai yang dikandungnya hingga masa kini. "Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?" Itulah pertanyaan yang dicetuskan oleh Dr Radjiman Wedyodiningrat, Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dalam sidang pertamanya 29 Mei 1945 silam. Gedung Chuo Sangi In yang berlokasi di Jakarta Pusat menjadi saksi bisu sidang perumusan dasar negara Indonesia. Beberapa tokoh seperti Mohammad Yamin dan Soepomo telah menyampaikan gagasannya terkait dasar negara, barulah pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mendapat gilirannya. Gagasan yang disampaikan Soekarno adalah mengenai dasar negara Indonesia merdeka, bernama Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis tersebut akhirnya diterima secara aklamasi oleh semua anggota BPUPKI. Pidato inilah yang menjadi alasan mengapa 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila.

Belum kunjung mencapai kesepakatan, maka dibentuklah panitia kecil yang bertanggungjawab dalam membahas, merumuskan, sekaligus menyelidiki usul-usul mengenai perumusan dasar negara Indonesia merdeka. Panitia ini biasa dikenal dengan nama panitia sembilan yang beranggotakan Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, K.H.A. Wahid Hasyim, Kyai Haji Kahar Muzakir, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Mr. Achmad Soebardjo, H. Agus Salim, dan Mr. Muhammad Yamin. Setelah banyaknya perbedaan pendapat dan paham antara para anggota panitia sembilan, pembahasan dasar negara ini akhirnya selesai pada 22 Juni 1945 dengan ditemukannya Piagam Jakarta yang diusulkan oleh Moh. Yamin.

Piagam Jakarta tidak semerta-merta langsung disahkan menjadi dasar negara, akan tetapi banyak proses dan evaluasi yang dihadapinya, bahkan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Saat itu, tokoh-tokoh Indonesia bagian Timur yang beragama Nasrani merasa keberatan dengan kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” karena dirasa sensitif dan menusuk hati orang-orang non-muslim. Bung Hatta, dengan keterampilannya melihat sesuatu secara terbuka dan visioner akhirnya menyadari bahwa apabila tujuh kata tersebut tidak dihapuskan, Indonesia akan mengalami perpecahan. Maka dari itu, Bung Hatta menerima usulan yang disampaikan tokoh non-muslim tersebut dan meneruskannya dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.


Pancasila di Tengah Era Globalisasi

Pancasila sebenarnya membawa ideologi terbuka yang selalu menyerap nilai-nilai baru dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa. Namun, harus ada kewaspadaan dalam diri bangsa terkait ideologi baru. Hal tersebut bisa membuat bangsa Indonesia melupakan nilai-nilai dalam ideologi pancasila karena terpengaruh dengan ideologi baru tersebut.

Banyaknya ideologi baru melalui media informasi yang mudah dijangkau seperti radikalisme, ekstremisme, konsumerisme menjadi tantangan utama bangsa. Hal tersebut berpotensi membuat masyarakat mengalami penurunan keinginan untuk mempelajari Pancasila dan daya tarik pembelajaran Pancasila menjadi berkurang. Tantangan selanjutnya adalah eksklusivisme sosial yaitu derasnya arus globalisasi yang mengarah kepada kecenderungan politisasi identitas, gejala polarisasi, dan fragmentasi sosial yang berbasis SARA. Bonus demografi juga menjadi tantangan bangsa untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di tengah arus globalisasi. Terdapat beberapa cara untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di era globalisasi. Pertama, memanfaatkan perkembangan teknologi yang menarik generasi muda dan masyarakat. Selanjutnya adalah menyebarluaskan berbagai nilai Pancasila melalui pendidikan dan pembelajaran berkesinambungan yang berkelanjutan di semua kalangan pelajar.

Saat ini Pancasila telah diajarkan secara teori dan praktik kepada masyarakat  melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Akan tetapi, kita harus mengakui bahwa pengaruh perkembangan global juga berdampak pada anak-anak. Di masa mendatang, Pancasila akan menjadi otoritas negara dan penegakan hukum serta melindungi hak-hak dasar warga negara. Oleh karena itu, sebagai warga negara kita harus menanamkan kesadaran terhadap ideologi baru yang bertentangan dengan Pancasila karena dapat merubah identitas bangsa Indonesia.

Seharusnya representasi sosial tentang Pancasila yang diingat orang adalah Pancasila ideologi toleransi, Pancasila ideologi pluralisme, dan Pancasila ideologi multikulturalisme. Representasi sosial tentang Pancasila merupakan kerangka acuan nilai bernegara dan berbangsa yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Jika Pancasila menjadi acuan kehidupan bangsa, maka implementasi nilai-nilai Pancasila akan lebih mudah terlihat dalam praktik bernegara, misalnya dalam pengambilan kebijakan-kebijakan politik. Selain itu, Pancasila bisa memberikan solusi di tengah beragamnya ideologi di negara kita, seperti sosialis dan liberal serta di tengah usaha politik identitas oleh agama, etnik, dan kepentingan.


Referensi

Budiarto, G. (2020). Indonesia dalam Pusaran Globalisasi dan Pengaruhnya Terhadap Krisis Moral dan Karakter. Pamator Journal, 13(1), 50–56.

Elisken, Silviana. 2015. Peranan Pancasila Dalam Menumbuhkan Kesadaran Nasionalisme Generasi Muda Di Era Global. Jurnal Humanika, 3(2), 54-67.

Dariyanto, E. (2016, June 1). Ini Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang Jadi Cikal Bakal Lahirnya Pancasila. detiknews. https://news.detik.com/berita/d-3222960/ini-pidato-bung-karno-1-juni-1945-yang-jadi-cikal-bakal-lahirnya-pancasila

Novita, C., Raditya, I. N., & Novita, C. (2021, May 31). Kenapa Sejarah Hari Lahir Pancasila Diperingati Tanggal 1 Juni? tirto.id. https://tirto.id/kenapa-sejarah-hari-lahir-pancasila-diperingati-tanggal-1-juni-ggnl

Subarkah, M. (2016, June 1). Pancasila, Sukarno, Piagam Jakarta, dan Debat Dasar Negara. Republika Online. https://www.republika.co.id/berita/o83mzy385/pancasila-sukarno-piagam-jakarta-dan-debat-dasar-negara

Hubungi Kami

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Copyright © 2022

BEM FT UI

#SelaraskanNurani

MembangunNegeri