{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

HARI PENDIDIKAN INDONESIA

(Oliver Aureyarthur Mather Barus- M. Jiyad Mahisa)


“Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya!” – Ir. Soekarno


Pendidikan merupakan kunci utama keberhasilan, sejak dini kita diracuni dengan ilmu ilmu yang bahkan di saat itu kita tidak tahu kegunaannya untuk masa depan kita, namun di kemudian hari, kita baru sadar apa yang orangtua dan guru kita telah ajarkan dapat berguna bagi dunia yang akan dijalani kelak. Pendidikan tidak hanya didapat dari keformalitasan, namun hal yang berkaitan dengan kehidupan di sekitar kita sehari-hari dapat menjadi pelajaran untuk kita.

Tulisan ini ditujukan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional atau yang biasa disebut HARDIKNAS. Hardiknas diperingati setiap tanggal 2 Mei, untuk mengenang Bapak  Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara atau yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang sekaligus merupakan hari ulang tahun beliau. Mengapa Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Bapak  Pendidikan Indonesia? Hal itu dikarenakan beliau berjuang dengan darah penghabisannya untuk mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia dahulu.

Dapat diketahui bahwa pada zaman penjajahan di Indonesia, pribumi sangat sulit untuk mendapatkan ilmu dari sekolah atau pendidikan yang lain. Mayoritas anak pribumi pergi ke ladang untuk membantu orang tuanya atau pergi berperang menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), namun Ki Hajar Dewantara dengan segenap usahanya membangun suatu sekolah yang memprioritaskan anak pribumi sebagai siswa/i nya. Sekolah tersebut bernama Taman Siswa dan didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara dengan sabar mengajari dan membimbing anak pribumi agar tidak kalah saing dengan anak non pribumi yang notabene memiliki ilmu lebih cerdas dari anak Bangsa pada saat itu.

Maka dari itu, atas jasa-jasa beliau, Ir. Soekarno selaku Presiden Indonesia pertama menobatkan Ki Hajar Dewantara menjadi Pahlawan Nasional sekaligus sebagai Menteri Pengajaran Nasional (sekarang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan). Beliau juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Indonesia karena telah mempelopori pendidikan perdana di Indonesia.

Jika ditarik benang merah ke zaman saat ini, pendidikan masih tetap penting, namun bukan ilmu pasti atau ilmu sosial yang menjadi prioritas anak Bangsa, melainkan pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti. Kecerdasan akan kalah dengan etika dan moral yang kuat, hal tersebut dibuktikan dengan kurikulum yang lebih mengutamakan nilai budi pekerti daripada kepintaran tersebut. Percuma jika Anda pintar, namun jika tidak mempunyai nilai moral yang baik, Anda akan dianggap sebelah mata oleh orang lain.


Daniel Goleman di dalam bukunya yang berjudul “Multiple Intelligences”,  menjabarkan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sedangkan kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya di Indonesia, pendidikan mengutamakan karakter, namun di negara-negara maju juga mengutamakan hal demikian.

Oleh karena itu, Indonesia harus melakukan upaya dalam pengaplikasian pendidikan karakter untuk mewujudkan kecerdasan emosional dan sosial bagi anak bangsa. Kemendikbud yang merupakan pemegang tanggung jawab terhadap sistem pendidikan di Indonesia bertindak dalam mengaplikasikan hal tersebut, mereka membuat suatu mata pelajaran yang bernama BK atau lebih dikenal dengan Bimbingan Konseling, harapannya mata pelajaran tersebut dapat mengajarkan bagaimana cara bertindak, berlaku hormat kepada orang yang lebih tua dan tidak lupa menghargai orang yang lebih muda serta bertindak sesuai norma-norma yang tersurat maupun tersirat di masyarakat.

Namun, dalam prakteknya, mata pelajaran Bimbingan Konseling tidak selalu berjalan sesuai dengan yang seharusnya berperan untuk mencerdaskan moral anak bangsa. Seringkali Bimbingan Konseling hanya dijadikan instrumen power system yang dimanfaatkan baik sekolah maupun faktor di luar komponen sekolah untuk. kepentingan tertentu, seperti memperbaiki nilai dan memuluskan jalur akademis. BK dalam perannya di sekolah juga kurang fatal dalam mengedukasi, BK lebih memanfaatkan kekuatan sistem itu sendiri ketika ada sesuatu hal besar yang terjadi, seperti peristiwa kenaikan kelas dan penindakan anak bermasalah.

Harapan utama dari dibuat tulisan ini yaitu untuk terus mengawal pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik, sesuai dengan salah satu tujuan Bangsa Indonesia pada sila ke 4, “mencerdaskan kehidupan bangsa”, itu adalah tanda bahwa hanya karena kita bukan pemangku kepentingan, bukan berarti kita tidak bisa membantu Pendidikan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.


Referensi

Makna Sejarah Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) | Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan. (2022).

Retrieved 1 May 2022, from https://disperkimta.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/makna-sejarah-hari-pendidikan

nasional-hardiknas-76S

Masdiana, Rasto, I Wayan Jatiyasa, Irwan Uspia, Taufik Novantoro, Mardiyanto, Ai Nurlela (2020). BUDAYA PROFESIONAL

UNTUK KEMAJUAN PENDIDIKAN – Publikasi Ilmiah. (2022). Retrieved 1 May 2022, from

http://www.publikasiilmiah.com/budaya-profesional-untuk-kemajuan pendidikan/

Suryahadikusumah, A. and Diana, D., 2020. Analysis Of Communication Process In Counseling Through Whatsapp. JURKAM:

Jurnal Konseling Andi Matappa, 4(1).

Hubungi Kami

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Copyright © 2022

BEM FT UI

#SelaraskanNurani

MembangunNegeri