{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

“Tren Belanja dari Rumah, Sampah Kemasan Paket Semakin Melimpah”


Pandemi Covid-19 membuat pola hidup masyarakat global berubah. Banyak sektor yang terdistrupsi oleh kehadiran pandemi ini. Salah satunya adalah sektor ekonomi, yakni perilaku belanja masyarakat. Indonesia menjadi negara pengguna e-commerce tertinggi di dunia menurut We Are Social pada april 2021.

Menurut laporan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, transaksi e-commerce di Indonesia mencapai Rp403 triliun pada 2021. Nilai tersebut meningkat 51,6% dibandingkan tahun 2020 yang mencapai Rp266 triliun.


Peningkatan nilai transaksi e-commerce tentunya selaras dengan meningkatnya jumlah paket yang harus dikirimkan ke rumah konsumen. Sayangnya, masyarakat masih belum sadar bahwa kegiatan berbelanja online menghasilkan sampah kemasan sebagai pembungkus untuk pengiriman yang umumnya menggunakan plastik sekali pakai.

Menurut studi yang dilakukan oleh LIPI, di wilayah DKI Jakarta aktivitas belanja online masyarakat dalam bentuk paket selama pandemi meningkat 62%. Paket belanja tersebut 96% paket dibungkus dengan kemasan plastik tebal dan ditambah bubble wrap.


Selain permasalahan sampah, kegiatan belanja online juga tanpa disadari memberi dampak buruk terhadap pemanasan global. Meningkatnya jumlah transaksi belanja online memicu peningkatan emisi karbon global melalui sektor yang erat dengan belanja online, yakni sektor industri dan transportasi.

Hal tersebut diperparah dengan fakta bahwa sektor industri dan transportasi merupakan sumber penghasil emisi karbon. Menurut International Energy Agency, total emisi karbon dioksida global sepanjang 2020 mencapai 33,9 gigaton. Sumber yang sama mengemukakan bahwa tiga sumber teratas emisi karbon adalah listrik dan pemanas, industri, dan transportasi dengan jumlah emisi karbon berturut-turut 13,5, 8,5, dan 7,2 gigaton.

Tren belanja online tentunya tidak serta-merta menghasilkan dampak buruk. Akan tetapi, masyarakat sebagai konsumen perlu bijak dalam melakukan aktivitas satu ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak buruk belanja online:

  1. Berbelanja sesuai kebutuhan dan menghindari perilaku konsumtif untuk mengurangi transaksi barang yang tidak dibutuhkan.
  2. Selektif dalam memilih produk saat berbelanja online dengan mempertimbangkan jenis kemasan dengan mengutamakan jenis kemasan ramah lingkungan.
  3. Bertanggung jawab dengan sampah kemasan paket yang dihasilkan dengan membuangnya pada tempat yang seharusnya agar kemasan tersebut dapat dikelola dengan baik.


REFERENSI

Lidwina, A. 2021. Penggunaan E-Commerce Indonesia Tertinggi di Dunia. Diakses pada https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/06/04/penggunaan-e-commerce-indonesia-tertinggi-di-dunia.

Uli. 2021. Konsumen Belanja Online RI Melonjak 88 Persen pada 2021. Diakses pada https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20211229141536-92-740093/konsumen-belanja-online-ri-melonjak-88-persen-pada-2021#:~:text=Jakarta%2C%20CNN%20Indonesia%20%2D%2D,yang%20hanya%2017%20juta%20orang.

Rizaty, M.A. 2021. Transaksi E-Commerce Indonesia Diproyeksikan Capai Rp 403 Triliun pada 2021.Diakses pada https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/11/25/transaksi-e-commerce-indonesia-diproyeksikan-capai-rp-403-triliun-pada-2021. 

Yudhistira, A.W. 2021. Bahaya Lingkungan di Balik Maraknya Belanja Online. Diakses pada https://katadata.co.id/ariayudhistira/analisisdata/6143540c50b02/bahaya-lingkungan-di-balik-maraknya-belanja-online.

Hubungi Kami

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Copyright © 2022

BEM FT UI

#SelaraskanNurani

MembangunNegeri