{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

“Dampak Kebakaran Hutan dan Deforestasi Pada Pemanasan Global”


Pada zaman dahulu, saat manusia masih melakukan nomaden (berpindah tempat) untuk bertahan hidup, mereka akan membakar hutan untuk membuka lahan. Karena praktek ini memiliki biaya yang murah, perusahaan-perusahaan kehutanan dan perkebunan pun membuka lahan menggunakan metode ini.

Namun, pada saat ini fenomena kebakaran hutan kian meningkat di Indonesia. Tahun 2022 pun diawali dengan adanya fenomena kebakaran hutan yang terjadi di Kampung Wacopek, Kelurahan Gunung Lengkuas seluas kurang lebih satu hektar. Fenomena kebakaran hutan ini terus meningkat di setiap tahunnya, pada tahun 2021, tercatat 353.222 hektar areal hutan dan lahan terbakar. Angka tersebut meningkat 19.4% apabila dibandingkan dengan tahun 2020 yang mengalami kebakaran hutan sebesar 296.942 hektar. Kejadian tersebut terjadi di dua provinsi utama, yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penyebab utama kebakaran hutan adalah ulah manusia. Sekitar 90% kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi akibat ulah manusia. Selain itu, kebakaran hutan juga dapat disebabkan oleh fenomena El Nino. Menurut perkiraan data yang didapat dari Greenpeace, sebanyak 76%-80% deforestasi yang sedang terjadi saat ini tentunya banyak disebabkan karena adanya pembabatan hutan secara liar, penebangan ilegal dan kebakaran hutan. 

Selain kebakaran hutan, deforestasi atau penebangan hutan juga menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh perhutanan di Indonesia. Tingkat deforestasi hutan di Indonesia meningkat sekitar 2 juta hektar pada tahun 2000. Isu deforestasi juga sudah muncul sejak tahun 1980 yang menjadi isu lingkungan global yang bersifat kompleks. Deforestasi dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah over eksploitasi. Hal ini dapat digambarkan melalui areal hutan yang kerap gundul karena ditebang habis dan dialihfungsikan menjadi lahan lainnya. Kompleksitas yang terjadi pada deforestasi dapat muncul karena beberapa hal, yaitu isu ini telah melibatkan banyak aksi dan seruan politik yang melibatkan negara hingga ke civil society baik merujuk ke pemilik kepentingan secara langsung atau tidak.

Pada permasalahan deforestasi, berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada masa Orde Reformasi hingga saat ini mengalami penurunan pada tahun 2016 dan 2017, yaitu 0,48 juta hektar per tahunnya. Hal itu juga ditunjukkan dengan data Angka Deforestasi Bruto yang ada pada tahun 2019-2020 yakni sebesar 191,1 ribu ha dan angka reforestasinya sebesar 3,6 ribu ha. Hal ini juga disebabkan karena upaya yang cukup signifikan dari  KLHK dalam menangani masalah deforestasi seperti pemberhentian pemberian izin baru dan menyempurnakan tata kelola hutan alam primer serta lahan gambut. Walaupun begitu, permasalahan hutan yang terjadi di Indonesia masih sangat mengkhawatirkan, pada tahun 1990 hingga 2017 diperkirakan rata – rata 0,5 juta hektar lahan hutan hilang di setiap tahunnya (Publish What You Pay, 2020).


Banyak dampak negatif yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan deforestasi, seperti asap dari kebakaran hutan dapat menipiskan lapisan ozon, terganggunya kesehatan manusia, hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat, hilangnya sejumlah spesies flora dan fauna, penurunan kualitas air, dan mudah terkena erosi. Deforestasi hutan di Indonesia menimbulkan dampak yang sangat serius tentang permasalahan pemanasan global. Indonesia merupakan negara dengan penyumbang utama terhadap perubahan iklim dan kian rentan terhadap dampak yang ditimbulkan.


Kita harus berperan aktif dalam melestarikan dan menjaga lingkungan. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentunya kita segenap warga Bangsa Indonesia harus saling bekerja sama. Bukan hanya tugas pemerintah, masyarakat pun harus ikut bertindak dan berinisiatif. Berikut beberapa cara untuk mencegah kebakaran hutan dan deforestasi:

  1. Melakukan pembakaran sampah dengan jarak minimal yang telah ditentukan, yaitu 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan. 
  2. Tidak melakukan pembakaran saat cuaca berangin dan tidak merokok saat melakukan kegiatan di dalam hutan.
  3. Melakukan sistem pilih tebang dan melakukan penanaman kembali.
  4. Melakukan kegiatan reboisasi dan penghijauan pada kawasan non hutan.

REFERENSI

Kebakaran Hutan Dan Dampaknya Bagi Kehidupan – dlhk.bantenprov.go.id. (n.d.). Retrieved March 8, 2022, from https://dlhk.bantenprov.go.id/upload/article/2019/KEBAKARAN_HUTAN_DAN_DAMPAKNYA_BAGI_KEHIDUPAN.pdf

Ariansyah, A. (2017, December 19). Kebakaran Hutan dan Lahan. BNPB. Retrieved March 8, 2022, from https://bnpb.go.id/berita/kebakaranhutan

Luas Kebakaran Hutan Dan Lahan RI bertambah 19% pada 2021. Databoks. (n.d.). Retrieved March 8, 2022, from https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/11/luas-kebakaran-hutan-dan-lahan-ri-bertambah-19-pada-2021

Soeriaatmadja, R.E. 1997. Dampak Kebakaran Hutan Serta Daya Tanggap Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Terhadapnya. Prosiding Simposium: “Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan”

Wahyuni, H., & Suranto, S. (2021). Dampak Deforestasi Hutan Skala Besar terhadap pemanasan global di Indonesia. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 6(1), 148–162. https://doi.org/10.14710/jiip.v6i1.10083

Hubungi Kami

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Copyright © 2022

BEM FT UI

#SelaraskanNurani

MembangunNegeri