{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

“What happens when people open their hearts? They get better.” — Haruki Murakami

Hai, Kenalan yuk dengan Ghifari!

Akhir – akhir ini Ghifari lagi galau banget. Terasa seperti banyak sekali tekanan yang datang berturut turut. Ghifari juga bingung haruskah dia cerita dan terbuka akan masalahnya atau mending dipendem dulu aja ya?

Pernah nggak sih kalian berada di posisi Ghifari? Atau bahkan mungkin lagi ngerasain? Mau banget terbuka dan cerita tentang masalah yang lagi dihadapin tapi takut juga diliat lemah. Bahkan hingga dikatain sad boy dan gabisa nyelesaiin masalah sendiri. Tetapi jika gak terbuka capek mendem masalah sendirian.

Sebenernya terbuka sama orang lain tentang masalah yang lagi kita hadapin tuh baik gak sih?

Merriam-Webster mendefinisikan vulnerability sebagai “the ability of being physically and emotionally wounded’."

Vulnerability adalah sebuah keniscayaan. Manusia sejatinya bukanlah makhluk yang ideal. Sepanjang hidupnya pun, manusia tidak akan sempurna. Manusia akan merasakan yang namanya kesakitan, kehilangan, kekecewaan, kemarahan, dan peristiwa negatif lainnya.

Namun, manusia dibekali dengan satu hal yang memungkinkannya untuk berkembang dan belajar; consciousness.

Kesadaran bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna dan vulnerable membuat manusia belajar dari pengalaman untuk bisa berkembang dan memperbaiki nasibnya. Setelah manusia sadar, mereka akan belajar untuk terbuka terhadap orang lain.

Kita biasa melihat vulnerability dari kaca mata negatif, padahal hal ini bisa merupakan hidden gem loh untuk masalah kamu!

Vulnerability dapat membantu kamu dalam beberapa hal, yaitu :

  1. Affect labeling/Menyatakan perasaan dalam kata-kata membuat amigdala (bagian otak yang mengambil keputusan saat keadaan terdesak) menjadi lebih rasionil.
  2. Menekan emosi negatif yang melemahkan imunitas, sehingga kamu menjadi lebih sehat secara fisik maupun mental.
  3. Mendapat sudut pandang serta kesempatan baru.

Tidak hanya personal, terdapat hal baik juga loh dalam kepemimpinan dan kerja sama tim dengan keterbukaan!

Benefit ketika kamu terbuka dalam tim:

  • Membangun perasaan kepercayaan dalam tim
  • Membuka diskusi lebih dalam, karena mungkin yang lain pun merasakan hal yang sama
  • Menginspirasi dan memberanikan yang lain untuk menjadi diri sendiri dan resilien terhadap setiap konsekuensi

Jadi, bagaimana sih cara menerima keterbukaan diri kita?

1. Hindari merenungkan rasa malu

Tak perlu takut dihakimi! Semua orang akan menjudge kamu apapun yang dilakukan. Biarkan orang – orang berkata apa. Tugasmu adalah menyaring omongan itu.

2. Tingkatkan self-awareness

Seperti kata Brené Brown, “True belonging only happens when we present our authentic, imperfect selves to the world.”

3. Buat koneksi dengan orang lain

Dunia tidak terbagi menjadi 'mereka yang menawarkan bantuan' dan 'mereka yang membutuhkan bantuan'.

Kita semua merupakan bagian dari keduanya.

Akan tetapi, kita harus tetap hati – hati, jangan sampai Vulnerability ini menjadi pedang bermata dua. 

  • Terlalu terbuka bisa jadi senjata orang-orang untuk melawan kamu. Mereka yang tau kelemahan kamu, bisa saja menggunakan itu untuk menyerang kamu.
  • Percaya boleh, tetapi "don’t put too much trust on others." Kenapa? Terlalu terbuka bisa memicu munculnya trust issues. Jika kamu sudah terbuka dan percaya dengan orang lain, saat orang tersebut mengecewakan kamu, tentunya kepercayaan yang kamu bangun akan hilang sehingga keterbukaan itu hilang. Kedepannya, kamu bisa menjadi lebih was-was dan muncul trust issues. Akan muncul di pikiran seperti "Apakah orang ini dapat dipercaya?" "Dia bakal nyakitin gua ga ya?" sehingga kadang sulit kembali untuk kamu bisa terbuka seperti awal.

Referensi :

Dris, C. and Dris, C., 2021. 4 Steps to Embrace Vulnerability | The Body & Mind Coach. [online] The Body & Mind Coach. Available at: <https://www.thebodyandmindcoach.com/4-steps-embrace-vulnerability/> [Accessed 19 May 2021].

Makarim, Fadhil Rizal, 2021. Stres Berkepanjangan, Bagaimana Dampaknya Bagi Tubuh?. [online] halodoc. Available at: <https://www.halodoc.com/artikel/stres-berkepanjangan-bagaimana-dampaknya-bagi-tubuh> [Accessed 19 May 2021].

Amin, H., 2021. Vulnerable Leadership: The Key to Building Trust. [online] Learn.g2.com. Available at: <https://learn.g2.com/vulnerable-leadership> [Accessed 19 May 2021].

Tim Penulis: Reine Denientya, Zidane Effendy, Khansa Diandra, Kafka Alghifari, Vinitta Vrillya Adiniezza, Stevan Togar Pasaribu

Kunjungan Eksternal

Publikasi

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI