{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Tya dan teman-temannya merupakan teman satu kelompok. Mereka mendapatkan tugas yang cukup banyak dan tugas ini pun dibagi per anggota.

Tya merasa bahwa temannya tidak cukup kompeten untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Maka dari itu, Tya berkata “Guys, gue ambil alih yang ini dan itu ya, ntar kalian tinggal tunggu aja.”

Apakah kamu pernah bertemu orang seperti Tya? Atau bahkan kamu pernah berada di posisi Tya? 

“Semakin detail kontrolku pada kerjaan tim, semakin baik dong!”

Jika berpikir seperti ini, bisa jadi mereka atau kamu adalah seorang micromanager!

Apa itu micromanagement?

Merriam-Webster mendefinisikan micromanagement sebagai bentuk manajemen dengan kontrol berlebihan atau perhatian ekstrem pada detail-detail kecil. 

Micromanagement dapat meluas ke aspek sosial dalam konteks apa pun, yaitu seseorang mengambil pendekatan yang cenderung menekan kontrol dan pengaruh atas anggotanya. Seringkali, obsesi berlebihan terhadap detail terkecil menyebabkan kegagalan manajemen dalam kemampuan untuk berfokus pada detail utama.

Menurut Harvard Business Review ada 2 alasan utama seseorang melakukan micromanagement, yaitu :

  1. Mereka ingin lebih terhubung dengan bawahannya
  2. Mereka lebih nyaman untuk menjadi eksekutor dibandingkan supervisor

Sedangkan menurut best selling author Mark Murphy, orang-orang takut bahwa reputasinya akan ternodai oleh performa yang tidak maksimal.

Ketakutan tersebut dipicu oleh :

  1. Takut kehilangan kendali dalam suatu proyek.
  2. Anggota tim yang tidak terlatih dengan baikKurang pengalaman dalam hal manajemen.
  3. Micromanagement dapat mempengaruhi kemampuan tim mereka untuk mengembangkan perilaku kepemimpinan mereka sendiri 

Pros and Cons of Micromanaging

Pros

  • Bisa mendeteksi dan mencegah kemungkinan masalah yang muncul beserta langkah tindakannya
  • Selalu berusaha memberikan hasil yang terbaik bagi tim nya
  • Dapat mengembangkan empati secara alami
  • Bisa mendelegasikan tugas kepada apa, siapa, dan kapan dengan tepat dan sesuai proporsi

Cons

  • Menghambat pengembangan diri pribadi
  • Menurunkan tingkat efisiensi, dan produktivitas dari sebuah tim
  • Hilangnya rasa kepercayaan dan dipercayakan dalam sebuah tim
  • Anggota tim mengalami demotivasi dan kurang percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri
  • Menghilangkan room for improvement & creativity dalam sebuah tim

Pros
Cons
Micromanagement
  • Bisa mendeteksi dan mencegah kemungkinan masalah yang muncul beserta langkah tindakannya
  • Selalu berusaha memberikan hasil yang terbaik bagi tim nya
  • Dapat mengembangkan empati secara alami
  • Bisa mendelegasikan tugas kepada apa, siapa, dan kapan dengan tepat dan sesuai proporsi
  • Menghambat pengembangan diri pribadi
  • Menurunkan tingkat efisiensi, dan produktivitas dari sebuah tim
  • Hilangnya rasa kepercayaan dan dipercayakan dalam sebuah tim
  • Anggota tim mengalami demotivasi dan kurang percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri
  • Menghilangkan room for improvement & creativity dalam sebuah tim


Lalu kita harus apa sih saat micromanagement mengganggu performa diri atau tim?

1. Reappraise

Lakukanlah asesmen dan cek apakah tindakan yang dilakukan oleh rekan kerjamu ini memiliki dampak baik.

Pastikan bahwa kekuasaanyang dia pegang itu akuntabel dan tidak merugikan.


2. Establish standards

Ukur dampak pekerjaan rekan kerjamu dengan standar-standar tertentu yang ingin dicapai bersama.

Tentukan goals, ekspektasi, serta batasan-batasan dalam pekerjaan dan pastikan bahwa dengan tindakan micromanagement ini semua hal tersebut bisa tercapai.


3. Komunikasi

Peduli adalah hal yang penting dalam pekerjaan.

Communicating your concerns towards your co-worker directly is one way to make sure that your co-worker understands what he is doing.

Apabila tindakan micromanagement tersebut sekiranya meresahkan atau mengganggu produktivitas, maka komunikasikan.


If needed, micromanagement can be a solution!

Ada saat-saat micromanagement perlu untuk dilakukan. Kuncinya adalah kenali situasi yang sedang terjadi dan hindari jenis micromanagement yang negatif, yaitu kontrol yang berlebihan.


Tiga contoh kasus seorang ketua atau pemimpin kelompok memang dirasa perlu melakukan micromanagement:

  1. Ketika ada anggota kelompok yang sedang mempelajari hal baru
  2. Ketika ada anggota kelompok yang baru masuk, tetapi tim sudah lama terbentuk
  3. Ketika ada anggota kelompok yang memang sedang kesulitan


Micromanagement akan cenderung menjadi sebuah penghambat ketika anggota kelompok bisa menunjukkan kompetensinya secara baik dan konsisten dan memang tidak mendapatkan manfaat berarti dari adanya monitoring dan pelatihan-pelatihan tambahan.


So.. be a commander, not a micromanager!


Menjadi seorang pemimpin yang mempunyai kuasa lebih harus mempunyai 2 hal, yaitu vision dan control.

Seorang commander dapat menggambarkan visi-misi, target, dan rencana strategis dengan jelas agar yang dipimpin mempunyai tujuan yang sama dan menghasilkan kerja yang diinginkan, tanpa menjadi seorang micromanager.


“Micromanagers tell, leaders ask.” -Jo Miller


Referensi:

Angelovska, N., 2021. 7 Reasons Why Micromanagers Are Good For Teams And Companies. [online] Forbes. Available at: <https://www.forbes.com/sites/ninaangelovska/2018/11/05/why-you-should-add-micromanagement-as-a-skill-in-your-job-application/?sh=386755a168bc> [Accessed 19 June 2021].

Indeed.com. 2021. Why People Micromanage and How To Respond. [online] Available at: <https://www.indeed.com/career-advice/career-development/micromanagement> [Accessed 19 June 2021].

Indeed.com. 2021. 25 Signs of a Micromanager (Includes Advantages and Disadvantages of Micromanagement). [online] Available at: <https://www.indeed.com/career-advice/career-development/micromanager> [Accessed 19 June 2021].

Tim Penulis: Khansa Diandra, Hanna Marwah, Leonardo Dillon, Kafka Alghifari

Kunjungan Eksternal

Publikasi

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI