{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Pagi Teknik!

Pada artikel ini, Kestari BEM FT UI 2021 akan sedikit membahas terkait Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Mulai dari kata yang sering salah, penggunaan tanda baca, hingga imbuhan semua akan kita bahas pada artikel ini. Yuk, sama-sama kita cari tahu!

30 Penulisan Bahasa Indonesia yang Sering Salah:

1. Aktivitas vs. aktifitas

Kosakata ini merupakan kata serapan dari bahasa asing. Di bahasa Indonesia, kata asing diserap baik dalam bentuk kata dasar maupun kata berimbuhan. Sesuai kaidah, imbuhan asing yang berakhiran -ity akan diserap bersama kata dasarnya. Maka dari itu, kata asing active tetap diserap menjadi aktif sedangkan untuk activity diserap menjadi aktivitas. 

2. Donatir vs. donatur

3. Sekedar vs. sekadar

Dalam KBBI tidak terdapat kata dasar "kedar" yang ada adalah "kadar"

4. Eliminir vs. eliminasi

 5. Silahkan vs. silakan

Dalam KBBI tidak ditemukan kata dasar “silah” namun adanya kata “sila”. Kata “sila” itu sendiri memiliki artian sudilah kiranya, yaitu kata perintah yang halus.

6. Antre vs antri

7. Analisa vs. analisis

Kata ini juga merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu analysis. Dalam penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, akhiran -ysis berubah menjadi -isis.

8. Ghaib vs. Gaib

9. Praktik vs. praktek

Kata ini juga merupakan kata serapan dari bahasa Inggris practice. Untuk setiap kata yang memiliki akhiran -ic maka perubahan yang tepat ke dalam bahasa Indonesia menggunakan -ik sehingga penulisan yang tepat adalah praktik.

10. Resiko vs. risiko

Kata ini merupakan kata serapan dari bahasa asing yaitu risk. Dalam KBBI, maka akan ditemukan juga kata risiko

11. Peduli vs. perduli

12. Di mana vs. dimana

Merujuk pada pedoman EYD (Ejaan yang Disempurnakan), setiap kata depan seperti di- dan ke-, harus ditulis terpisah jika menunjukkan tempat.

13. Gobah vs. Gubah

14. Nasihat vs. nasehat

Kata ini merupakan kata serapan dari Bahasa Arab yang berasal dari kata kerja “nashaha” yang berarti “khalasha”, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran. Dalam penyerapan bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang berkaitan dengan perubahan bunyi huruf harus disesuaikan dengan ciri khas Indonesia melafalkannya

15. Perancis vs. Prancis

16. Terimakasih vs. Terima kasih

Merujuk dalam KBBI, penulisan yang benar adalah dipisah. 

17. Idulfitri vs. Idul Fitri?

Dalam KBBI, kata Idul fitri tidak ditemukan yang berarti tidak baku.  

18. Shalat vs. Salat

Kata diatas merupakan kata serapan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Dan penulisan sesuai KBBI adalah salat. 

19. Walikota vs. Wali Kota 

20. Telepon vs. Telefon?

Berdasarkan KBBI bentuk bakunya adalah telepon. Kata telepon sendiri merupakan kata Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Inggris yang berbunyi telephone. 

21. Anti sosial vs. Antisosial?

Kata anti— dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. 

22. Hoax vs. Hoaks?

Bentuk Hoax itu masih dalam Bahasa Inggris. Bentuk bakunya yang sudah tertera pada KBBI adalah hoaks.  

23. Notula vs. Notulen?

Notula sendiri dalam KBBI memiliki arti catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan diputuskan. Adapun untuk seseorang yang membuat notula tersebut dinamakan notulis. 

24. Detail vs. Detil?

Kata yang tertera pada KBBI adalah detail. 

25. Apotek vs. Apotik?

Berdasarkan KBBI, kata yang tepat adalah apotek ya. 

26. Ahlak vs. akhlak

Berdasarkan KBBI, kata yang tepat adalah akhlak dengan arti budi pekerti; perlakuan. 

27. Ajeg vs. Ajek

Kata ini berasal dari bahasa Jawa namun sudah masuk dalam KBBI yang berarti tetap; teratur; tidak berubah. 28. Bunker vs. BungkerKata ini sejatinya berasal dari bahasa Skot yang punya arti bangku atau kursi. 

29. Cengkrama vs. cengkerama

Dalam KBBI, kata yang tepat adalah cengkerama. 

30. Dharma vs. Darma

Kewajiban; tugas hidup; kebajikan 

Penggunaan Tanda Baca Titik dan Koma

TANDA TITIK

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya:

  • Ayahku tinggal di Solo. 
  • Biarlah mereka duduk di sana. 
  • Dia menanyakan siapa yang akan datang. 
  • Hari ini tanggal 6 April 1973. 
  • Marilah kita mengheningkan cipta. 
  • Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.  

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya: 

  • III. Departemen Dalam Negeri 
  • A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa 
  • B. Direktorat Jenderal Agraria  
  • 1. Patokan Umum 
  • 1.1 Isi Karangan 
  • 1.2 Ilustrasi 
  • 1.2.1 Gambar Tangan 
  • 1.2.2 Tabel
  • 1.2.3 Grafik  

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya: 

Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik) 

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya: 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik) 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik) 0.0.30 jam (30 detik)  

5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit. Misalnya: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.  

6a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misalnya: Desa itu berpenduduk 24.200 orang. Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.  

6b. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya: Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung. Lihat halaman 2345 seterusnya. Nomor gironya 5645678.  

7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.Misalnya: Acara kunjungan Adam Malik Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD ’45) Salah Asuhan  

8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal suat atau (2) nama dan alamat surat. Misalnya: Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik) Jakarta (tanpa titik) 1 April 1985 (tanpa titik)  Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik) Jalan Arif 43 (tanpa titik) Palembang (tanpa titik)  Atau: Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik) Jalan Cikini 71 (tanpa titik) Jakarta (tanpa titik)  

TANDA KOMA

1. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya: 

  • Saya membeli kertas, pena, dan tinta. 
  • Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko. 
  • Satu, dua, … tiga!  

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan. Misalnya: 

  • Saya ingin datang, tetapi hari hujan. 
  • Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.  

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya: 

  • Kalau hari hujan, saya tidak datang. 
  • Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.  

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya: 

  • Saya tidak akan datang kalau hari hujan. 
  • Dia lupa akan janjinya karena sibuk. 
  • Dia tahu bahwa soal itu penting.  

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya: 

  • …. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
  •  …. Jadi, soalnya tidak semudah itu.  

5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat. Misalnya: 

  • O, begitu? 
  • Wah, bukan main! 
  • Hati-hati, ya, nanti jatuh.  

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.) Misalnya: 

  • Kata ibu “Saya gembira sekali.” 
  • “Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”  

7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya: 

  • Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan raya Salemba 6, Jakarta. 
  • Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor. 
  • Kuala Lumpur, Malaysia.  

8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya: 

  • Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: Pustaka Rakjat.  

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya: 

  • W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.  

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya utnuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya:

  •  B. Ratulangi, S.E. 
  • Ny. Khadijah, M.A.  

11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya: 

  • 12,5 m 
  • Rp12,50  

12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya: 

  • Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali. Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih. 
  • Semua siswa, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara. 

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma: 

  • Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.  

13.Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca―di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya: 

  • Dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh. 
  • Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih. 

Bandingkan dengan: 

  • Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya pembinaan dan pengembanagan bahasa. Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.  

14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru. Misalnya: 

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.

“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya. 

IMBUHAN 

Imbuhan merupakan berbagai bunyi-bunyi yang ditambahkan kepada kata dasar untuk mengubah atau menambahkan makna pada kata dasarnya. Dalam bahasa Indonesia, biasanya imbuhan diletakkan di awalan, sisipan, akhiran dan imbuhan gabungan. Berdasarkan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), terdapat empat macam kata imbuhan yaitu awalan (prefiks), akhiran (sufiks), imbuhan gabungan (konfiks), dan sisipan (infiks).

Fungsi Imbuhan:

  • Membentuk sebuah kata benda, yaitu peN-, pe-, per-, ke-, -isme, -wan, -sasi, -tas, peN-an, pe-an, per-an, dan ke-an. Contohnya pelaut, wartawan dan lain sebagainya.
  • Membentuk suatu kata kerja, yaitu me-, ber-, per-, ter-, di, -kan, ter-kan dan di-i. Contohnya melaut, berlayar, diminum, menaiki dan lain sebagainya.
  • Membentuk salah satu kata sifat, yaitu –I, -wi, -iah dan –is. Contohnya ilmiah, agamis, manusiawi dan lain sebagainya.
  • Membentuk berbagai kata bilangan yaitu se- dan ke-. Contohnya sepuluh dan kedua.
  • Membentuk semua kata keterangan, yaitu se-nya, -nya, -an, Contohnya: sepertinya, habis-habisan, seindah-indahnya dan lain sebagainya. 

Jenis-Jenis Imbuhan

1. Jenis Imbuhan Berdasarkan Tempat atau Posisinya

  • Prefiks atau Awalan yaitu suatu afiks atau imbuhan yang terletak di awal kata dasar, misalnya meng, ter, ber, ke, per, peng, se me, meng, memper- dan lainnya.
  • Sufiks atau Akhiran merupakan sebuah afiks atau imbuhan yang terletak di akhir kata dasar, misalnya -an, -kan, -nya, -i
  • Infiks atau Sisipan yakni salah satu afiks atau imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar, misalnya : em, el, in, er, ah.
  • Konfiks atau Simulfiks ialah berbagai afiks atau imbuhan yang terletak di awal dan akhir kata dasar sekaligus, misalnya : ke-an, per-an, ber-an, di-i di-kan, peng-an, ke-an, memper-i, memper-kan, me-kan. 

2. Jenis Imbuhan Berdasarkan Frekuensi Penggunaannya

  • Afiks Produktif yaitu suatu afiks atau imbuhan yang mempunyai frekuensi penggunaan yang tinggi. Contoh: se-, ber-, meng-, peng-, per-, dan seterusnya.
  • Afiks Tak Produktif yakni sebuah imbuhan atau afiks yang mempunyai frekuensi penggunaan rendah. Contoh: -em, -el, -wati, -is, -er, dan seterusnya.

3. Jenis Imbuhan Berdasarkan Imbuhan Asing atau Afiks Serapan

  • Akhiran atau Sufiks dari bahasa Sansekerta : -wan, -man, -wati.
  • Akhiran atau Sufiks dari bahasa Arab : -i, -wi, -at, -ah, -in.
  • Akhiran atau Sufiks dari bahasa Barat :-isme, -tas, -logi, -is, -ika, (asi), dsb (kata benda), -al, -or, -if, -is, dsb. 

Contoh Imbuhan

1. Awalan (Prefiks)

  • Memasak, Memanah, Melihat, Membaca, Menari
  • Bersabar, Bercermin, Berlima, Bersama, Bersatu
  • Terasing, Tersayang, Tercinta, Terpintar, Tercantik
  • Kekasih, Kemana, Kehendak, Kelima
  • Sekamar, Serumah, Sepulang, Sebanding, Segunung
  • Dikejar, Dibuly , Dimakan, Dibaca
  • Perkelas, Perbudak, Pertebal, Permudah, Persulit 

2. Imbuhan Gabungan (Konfiks)

  • Berlarian, Bersamaan, Bersalaman
  • Pemukiman, Perasaan
  • Perjuangan, Persatuan, Perdebatan
  • Perbaiki
  • Persamakan, Persatukan, Perluaskan
  • Melewatkan, MenuliskanMerindui, Meridhoi
  • Mempertahankan, Mempersatukan
  • Melewati, Menodai
  • Memperbarui, Memperbaiki
  • Didamaikan, Disamakan, Disatukan
  • Dilewati, Dinodai, Disakiti
  • Dipermalukan, Dipersatukan
  • Diperbaiki
  • Terselamatkan
  • Terlewati
  • Keajaiban
  • Seenaknya, Semaunya 

3. Sisipan (Infiks)

  • Bulatkan, Belikan
  • Hargai, Maknai
  • Ukuran, Makanan
  • Harganya, Maknanya 

4. Akhiran (Sufiks)

  • Siramkan, Tunjukkan, Belikan, Selesaikan, Bereskan
  • Maknai, Marahi, Pukuli, Beresi, Hargai, Cederai
  • Rumahan, Ukuran, Makanan, Rendahan, Lamaran
  • Rumahnya, Bajunya, Obatnya, Miliknya, Harganya 

Sekian pembahasan mengenai PUEBI kali ini, semoga bermanfaat!

Kunjungan Eksternal

Publikasi

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI