{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Pendidikan Indonesia Kurang Berkualitas, Siapa yang Salah?

Oleh: Alexander Ganesh Aji Dewanto

  Pendidikan. Siapa gerangan yang tidak bosan mendengar kata itu? Namun, sebosan-bosannya orang membahas pendidikan, semakin sadar juga orang-orang akan pentingnya makna dari kata  tersebut. Atau lebih tepatnya, pentingnya keberadaan aspek tersebut dalam kehidupan kita. Pendidikan  menjadi penentu kualitas generasi suatu negara dan sejauh apa negara tersebut dapat maju kedepan. Ironisnya, meskipun sangat menjunjung tinggi pendidikan, negara Indonesia termasuk salah satu negara  dengan tingkat pendidikan terendah. Menurut Programme for International Student Assessment (PISA), pada Desember 2019 di Paris, Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara. Dalam survei itu, Malaysia menempati peringkat ke-56, sedangkan Singapura berada di puncak dengan menempati  peringkat nomor dua teratas. Banyak pendapat mengatakan bahwa hal ini terjadi karena tenaga pendidik  yang kurang berkualitas dan kurang meratanya persebaran kualitas pendidikan. Tetapi di sisi lain, banyak  orang juga mengatakan bahwa murid Indonesia malas belajar ilmu-ilmu formal. Lalu sebenarnya,  bagaimana hal ini dapat terjadi?

Menurut banyak orang, salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah  kurangnya kualitas tenaga pendidik. Kurangnya kualitas tenaga pendidik bukan berarti kurangnya  kecerdasan intelektual para pendidik terhadap suatu materi yang didalaminya, melainkan lebih pada  masalah kognitif dan cara mengajar mereka. Dengan kata lain, banyak pengajar yang tidak dapat  “mengajar”. Para pendidik di Indonesia cenderung kurang dapat menggali potensi murid dan  memunculkan rasa semangat dan cinta mereka akan pembelajaran. Kelemahan para pendidik di  Indonesia terletak pada kurangnya keinginan mereka untuk memperhatikan kebutuhan tiap anak. Tidak  jarang para pendidik memaksakan murid-muridnya untuk belajar menurut program yang telah ia  rancang. Para siswa memiliki kepribadian, kemampuan, serta kinerja otak yang berbeda-beda. Sehingga,  dengan tidak mencoba untuk memperhatikan tiap kelebihan dan kelemahan dari setiap murid, secara  otomatis para siswa akan merasa terkekang karena tidak merasakan sinkronisasi dalam dirinya terhadap  sistem pelajaran yang ia terima.  

Keadaan di Indonesia kurang memadai bagi murid untuk belajar, terutama dalam membangkitkan  niat mereka untuk belajar. Akan tetapi, apakah ini berarti sistem pemerintahan dan tenaga pengajar lah  yang harus sepenuhnya disalahkan? Tenaga pendidik adalah manusia. Tentunya, murid yang mereka  ajar juga adalah manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk bertindak diluar paksaan seseorang, sehingga tindakan seseorang pada akhirnya datang dari kognitif dan keinginan bebas masing-masing.  Maka, tidak menutup kemungkinan bahwa para murid juga seringkali menyia-nyiakan kesempatan untuk  menerima pendidikan secara optimal. Beberapa contoh mudah yang dapat penulis sebutkan, yang mungkin Anda juga pernah lakukan, adalah mencontek saat ujian, bolos sekolah, mendiskriminasi dan  tidak menghormati para pelajar, dan lain hal. Hal ini merupakan kejadian yang benar-benar terjadi dan  dapat mempengaruhi tidak hanya kualitas pendidikan para murid, tetapi juga perilaku para pengajar  terhadap mereka.

Dengan demikian, proses pembelajaran, baik di sekolah formal, nonformal, maupun di perkuliahan,  merupakan sebuah proses interaksi antara pengajar dan juga yang diajar. Untuk itu, perlu adanya  pemahaman dan koneksi mutual di antara kedua belah pihak. Pengajar harus berusaha untuk  memahami yang diajar, begitu juga yang diajar harus memahami dan menghormati sang pengajar. Dengan memastikan terjaganya hal ini dalam proses pembelajaran, terdapat potensi yang lebih besar  untuk dapat terciptanya kualitas pendidikan yang lebih baik. 

Referensi: 

1. Akhsan, Muhammad A. (2020). Rendahnya Kualitas Pendidikan.  https://mahasiswaindonesia.id/rendahnya-kualitas-pendidikan/ 

2. Harususilo, Yohanes E. (2020). Pendidikan Perlu Bangun 3 Kecerdasan Siswa: Intelektual,  Emosional dan Cinta. https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/15/20210681/pendidikan-perlu-bangun-3-kecer dasan-siswa-intelektual-emosional-dan-cinta?page=all. 

3. Kusuma, Prita. (2020). Hari Pendidikan Internasional, Indonesia Masih Perlu Tingkatkan  Kualitas Pendidikan.  https://www.dw.com/id/hari-pendidikan-internasional-indonesia-masih-perlu-tingkatkan-kual itas-pendidikan/a-52133534

Kunjungan Eksternal

Publikasi

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI