{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Maria Montessori pernah berkata, “Free the child’s potential, and you will transform him into the world”. Anak-anak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Mereka jugalah yang nantinya akan menjadi penerus bangsa ini. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat (1) menyebutkan “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Sayangnya, tak semuanya berjalan mulus dalam kehidupan anak-anak ini.

Kekerasan yang terjadi dan perampasan hak pada anak-anak dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Pertama, kekerasan emosional, contohnya meremehkan dan mengancam anak. Kedua, penelantaran anak yang berarti tidak memenuhi kebutuhan mereka. Ketiga, kekerasan fisik yang dapat mengakibatkan memar, penyakit, bahkan kematian pada anak. Terakhir, kekerasan seksual, seperti mengekspos dan melecehkan anak. Sayangnya, sedikit dari mereka yang mendapat bantuan atas kekerasan yang mereka terima. Korban pun akan berisiko memiliki luka fisik dan emosional, gangguan mental, bahkan kematian.

Kekerasan pada anak ternyata meningkat cukup signifikan di pandemi Covid-19. Berdasarkan SIMFONI PPA, kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia dari 1 Januari hingga 23 September 2020 mencapai 5.697 kasus dengan 6.315 korban. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan data KPAI tahun 2019 sebesar 4.369 kasus dan tahun 2018 sebesar 4.885 kasus kekerasan anak. Tercatat, dalam 2016-2020, jumlah korban dan pelaku pelanggaran kekerasan pada anak sejumlah 50,68% merupakan laki-laki. Ini didukung oleh data Kemeneg PPPA yang mengatakan bahwa 1 dari 2 laki-laki mengalami minimal satu jenis kekerasan seksual, fisik atau emosional sebelum umur 18 tahun. Sementara itu, remaja perempuan pada kelompok umur yang sama, prevalensi kekerasannya jauh lebih rendah yakni hanya 1 dari 6.

Oleh karena itu, Hari Anak Nasional hadir dalam memperingati dan mencerdaskan masyarakat terkait hak dan kekerasan pada anak-anak. Awalnya, digagaslah Hari Kanak-Kanak Nasional yang digagas oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan disahkan oleh Soeharto. Namun, beberapa tahun kemudian, diubah menjadi Pekan Kanak-Kanak Nasional pada minggu kedua Juli 1952 dan berganti lagi pada 1-3 Juni bersamaan dengan Hari Anak Internasional. Sempat pula Hari Kanak-Kanak ditetapkan pada 6 Juni, bertepatan dengan hari lahir Soekarno. Hari Kanak-Kanak lalu diganti oleh Soeharto pada 1984 sesuai dengan Keputusan Presiden RINomor 44 Tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional menjadi Hari Anak Nasional yang menitikberatkan perkembangan anak pada 23 Juli.

Dibutuhkan kontribusi dari setiap pihak untuk memberantas kekerasan anak. Pemerintah dengan peraturan dan kebijakannya diharapkan mampu untuk menerapkan dan menindak tegas kasus kekerasan anak. Selain itu, kita sebagai mahasiswa juga turut berpartisipasi dan acuh terhadap isu ini. Laporkan kepada pihak berwajib dan kerabatnya yang dapat dipercaya untuk menangani kasus pelanggaran. Selain itu, edukasikan kepada masyarakat betapa pentingnya kita butuh mengakhiri kekerasan pada anak dan remaja.

Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Apabila kita tidak mampu menjaga dan mengembangkan mereka, bangsa kita akan mengalami kemunduran. Melindungi mereka sudah seharusnya merupakan perhatian kita semua.