{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Oleh: Alexander Ganesh Aji D.

Satu dari seribu orang Indonesia . Itu adalah angka yang dicetuskan UNESCO akan kecenderungan seseorang yang giat membaca dalam populasi seribu orang. Pada awalnya, literasi dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis huruf tanpa harus mengerti apa yang dibaca atau ditulis. Akan tetapi, terjadi perubahan arti pada kata literasi menjadi proses belajar yang bertujuan melahirkan kesadaran kritis individual atau kelompok yang dapat bermanfaat bagi pembangunan manusia. Menurut riset yang dilakukan UNESCO, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara mengenai tingkat literasi suatu negara. Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Hal ini dapat dikaitkan pada statistic bahwa Indonesia salah satu negara dengan tingkat hoax tertinggi, salah satu contoh yang akhir-akhir ini marak adalah hoax

terhadap adanya kandungan B2 dalam vaksin covid-19. Kalau begitu, apakah berarti orang-orang Indonesia kurang kritis karena malas membaca?

Banyak ahli berpendapat bahwa sebenarnya orang Indonesia bukannya malas membaca, melainkan akses mendapat literasinya yang sangat kurang dan terbatas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pada bagian Timur dari Indonesia, khususnya, banyak anak-anak yang tidak mampu mendapat sarana membaca buku. Tetapi, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki sarana untuk mendapatkan literasi? Indonesia pada tahun 2019 memiliki penduduk sebesar 270 juta jiwa. Sebuah penelitian melalui survei TIK menunjukkan bahwa 2/3 dari seluruh penduduk Indonesia sudah memiliki smartphone, yang berarti sekitar 180 juta jiwa sudah memiliki smartphone dan aktif menggunakannya. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Dengan banyaknya sumber literasi yang dapat ditemukan melalui sarana smartphone, dapat disimpulkan bahwa untuk 2/3 dari seluruh masyarakat Indonesia, literasi bukanlah sesuatu yang sulit untuk didapatkan.

Sebenarnya, para pegiat literasi melihat bahwa minat baca orang Indonesia cukup tinggi, tetapi belum menjadi prioritas dalam kesehariannya. Membaca tidak harus dilakukan dengan menggunakan buku cetakan, tetapi juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan buku digital atau biasa disebut dengan e-book. Menurut data dari WeAreSocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari, yang berarti mereka memiliki banyak kesempatan untuk meluangkan waktunya dan membaca, hanya saja lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain seperti bermain game online, chatting, social media, atau menonton audiovisual. Memang benar bahwa sarana pembelajaran tidak hanya melalui bacaan, tetapi bacaan tetap menjadi salah satu sumber ilmu yang penting bagi manusia. Dengan demikian, kita harus sadar bahwa tidak dapat dipungkiri minat membaca di Indonesia sangatlah minim. Dengan sadar hal ini, baru kita dapat menjadi pionir dalam menyebarluaskan awareness akan pentingnya membaca, terutama untuk terhindar dari informasi yang tidak valid. Tidak sulit sebenarnya untuk dapat meningkatkan tingkat literasi, salah satu caranya adalah dengan cukup membaca 1 artikel dalam sehari. Artikel yang dibaca tidak harus berat ataupun panjang, boleh menyesuaikan minat anda. Pertanyaannya adalah, kapan anda akan memulainya?

Referensi :

  1. Damarjati, Danu. (2019). Benarkah Minat Baca Orang Indonesia Serendah Ini? https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang-indonesia-serendah-ini
  2. Solihin, Lukman. (2019). Indeks Aktivitas Literasi Membaca. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pendidikan  dan Kebudayaan.
  3. Davega, Evita. (2017). TEKNOLOGI Masyarakat Indonesia : Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media
  4. Tan, Poedjiati. (2020). Minat Baca Orang Indonesia Paling Rendah di Dunia, Karena Tak  Ada Akses dan Kesempatan. https://www.konde.co/2020/03/minat-baca-orang-indonesia-paling.html/

Kunjungan Eksternal

Publikasi

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI