{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Oleh: Iffah Zulva Nugraheni 

WHO menetapkan tanggal 7 April setiap tahunnya sebagai Hari Kesehatan Sedunia. Sejarah singkat hari kesehatan sedunia dimulai pada Desember 1945. Pada saat itu pejabat dari Brasil dan Cina mengusulkan adanya organisasi kesehatan sedunia yang independen dan tidak dipengaruhi oleh kekuasaan negara manapun. Pada Juli 1946 konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia disetujui. Konstitusi tersebut mulai berlaku pada tahun 1948 dengan 61 negara yang menandatangani berdirinya lembaga tersebut. Fakta menarik, Hari Kesehatan Sedunia dirayakan pada tanggal 22 Juli 1949, namun kemudian diubah menjadi 7 April sebagai pengingat berdirinya WHO.

Setiap tahun WHO menyoroti pengembangan dunia kesehatan yang berbeda. Tahun 2021 ini, WHO mengangkat tema “Building a fairer, healthier world”, membangun dunia yang yang lebih adil dan sehat. Hari Kesehatan Dunia tahun ini akan menyoroti perawat dan bidan, tenaga kerja yang siaga setiap saat yang merevolusi dunia kesehatan seperti yang kita kenal sekarang. Bagaimanakahkesehatan di Indonesia? Apakah sudah bisa dibilang adil? Apakah kesejahteraan tenaga kesehatan sudah cukup diperhatikan di tengah Pandemi Covid-19? Berikut rangkuman beberapa permasalahan yang menjadi sorotan selama pandemi covid-19 di awal tahun 2021.

Balada Pandemi Perjelas Ketidakadilan

Keadaan kita tidak setara. Dalam kondisi pandemi COVID-19 yang terus berlanjut, beberapa orang dapat hidup lebih sehat dan memiliki akses yang lebih baik ke layanan kesehatan daripada yang lain – sepenuhnya karena kondisi di mana mereka lahir, tumbuh, hidup, bekerja, dan berusia. Beberapa kelompok berjuang untuk memenuhi kebutuhan dengan sedikit pendapatan harian, memiliki kondisi perumahan dan pendidikan yang lebih buruk, lebih sedikit peluang kerja, mengalami ketidaksetaraan gender yang lebih besar, dan memiliki sedikit atau tidak ada akses ke lingkungan yang aman, air dan udara bersih, ketahanan pangan dan layanan kesehatan. Hal ini menyebabkan penderitaan yang tidak perlu, penyakit yang bisa dihindari, dan kematian dini.

Vaksin Gotong Royong, Apakah Menyerobot Mereka yang Lebih Berhak?

Di tengah kondisi pandemi yang serba susah, kabar vaksinasi seolah menjadi jalan terang, menyulutkan harapan tumbuhnya kembali kondisi ekonomi Indonesia setelah setahun tertatih-tatih. Pemerintah menargetkan vaksin gratis untuk 70 persen masyarakat Indonesia yang memenuhi kriteria prioritas. Beberapa hari pasca vaksinasi pertama yang dilakukan di istana, mulai ramai perkara usulan vaksinasi mandiri atau yang kemudian kita sebut dengan vaksinasi gotong royong.

Kritikan datang dari epidemolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, menilai kebijakan vaksinasi gotong royong akan membawa ketidakadilan. Pelaksanaan vaksinasi harusnya mendahulukan kelompok prioritas yang telah ditetapkan yaitu tenaga kesehatan, lansia, serta mereka yang ada di daerah yang rentan terjangkit virus corona. Memberikan vaksin kepada karyawan perusahan yang bersangkutan beserta keluarganya justru akan menyela antrian yang ditetapkan secara nasional. Pandu berpendapat kontribusi perusahaan dapat dilakukan melalui program CSR untuk membantu pengadaan sehingga daftar prioritas dapat terpenuhi. 

Dari pihak Kemenkes sendiri berusaha menjamin agar pelaksanaan vaksinasi tetap adil dan tidak menimbulkan kecemburuan masyarakat. Upaya vaksinasi gotong royong tidak akan masuk ke hitungan target 70 persen dari masyarakat Indonesia. Kemenkes menilai bahwa vaksinasi mandiri akan mepercepat pembentukan herd immunity atau imunitas komunitas. Jenis vaksin yang digunakan juga berbeda, sehingga tidak akan mengganggu program vaksin gratis pemerintah.


Insentif Nakes Tak Kunjung Cair, Mandeg di Audit, Mengendap di Rekening

Di tengah kondisi pandemi ini, tenaga kesehatan sebagai garda terdepan bekerja dengan beban pekerjaan yang lebih berat dan jam kerja ekstra. Banyak dari mereka harus merelakan waktu tidak bertemu dengan anggota keluarga karena perasaan waswas akan tertular. Selain itu tenaga kesehatan juga mengalami kelelahan baik secara fisik dan mental. Untuk itu sudah seharusnya pemerintah memberikan apresiasi, salah satunya dalam bentuk insentif.

Dana insentif tenaga kesehatan sebesar 1,48 triliun hingga tanggal 23 Maret masih belum turun. Tunggakan insentif tersebut diketahui masih diaudit dan diverifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKB). Selain itu masih ada dana insentif Rp1 triliun yang masih mengendap di rekening pemerintah daerah dan belum dapat tersalurkan. Hal ini sudah seharusnya menjadi evaluasi bagi pemerintah, mengapa dana yang seharusnya sudah turun namun masih mandeg di proses audit.

Dari tahun ke tahun, hari kesehatan dunia dirayakan dengan berbagai kampanye kesehatan, long march, bersepeda, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun, tahun ini nampaknya kita masih harus merayakan dari rumah masing-masing. Selagi pemerintah sibuk dengan vaksin dan insentif, adakan upaya yang bisa kita lakukan untuk kesehatan Indonesia?


Bekerja Sama

Di tengan kondisi yang serba sulit, kerja sama jadi solusi yang efektif. Kita bisa menginisiasi atau mengikuti kegiatan yang melibatkan masyarakat. Kegiatan seperti bakti sosial penyediaan pangan atau kerja sosial untuk penyediaan keran air bersih merupakan contoh upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan.


Kumpulkan Data yang Dapat Diandalkan

Apakah di daerah tempat tinggalmu sedang melakukan pendataan untuk bantuan  sembako? Atau bantuan tunai? Tentunya sebelum bantuan tersebut dibagikan, dilakukan  pendataan terlebih dahulu. Pendataan haruslah dilakukan dengan akurat, keluarga manakah  yang sekiranya harus diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan. Data menjadi aspek yang  sangat penting dalam penanganan masalah kesehatan yang efektif. Jika memang kita  merasa tidak

termasuk dalam masyarakat yang mebutuhkan bantuan, maka sudah  seharusnya kita melapor ke ketua RT misalnya dan meperbarui data agar bantuan yang  diberikan tepat sasaran.

Bertindak Melampaui Batas Daerah

Ketika kita mampu melindungi, menguji, dan merawat populasi nasional barulah kita dapat  mengakhiri pandemi Covid-19 di Indonesia. Salah satu contoh tindakan yang dapat  dilakukan adalah penggalangan dana untuk daerah yang memang kesulitan atau tidak  memiliki akses fasilitas kesehatan dan rawan untuk terjangkit Covid-19.

Referensi :

  1. Erdianto, Kristian. “Vaksinasi Mandiri Dinilai Timbulkan Ketimpangan Akses Terhadap Vaksin Covid-19 Halaman 2.” KOMPAS.com, Kompas.com, 22 Jan. 2021, nasional.kompas.com/read/2021/01/22/20360891/vaksinasi-mandiri-dinilai-timbulkan-ketimpangan-akses-terhadap-vaksin-covid?page=2.
  2. National Today. “World Health Day.” National Today, 18 Mar. 2021, nationaltoday.com/world-health-day/.
  3. Saubani, Andri.“Vaksinasi Mandiri Salahi Prinsip Kesetaraan Dan Keadilan'.” Republika Online, Republika Online, 22 Jan. 2021, www.republika.co.id/berita/qnbb0r409/vaksinasi-mandiri-salahi-prinsip-kesetaraan-dan-keadilan.
  4. WHO. “World Health Day 2021.” World Health Organization, World Health Organization,  www.who.int/campaigns/world-health-day/2021.

Kunjungan Eksternal

Publikasi

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI