{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Kenalan yuk sama Aldo!

Aldo adalah seorang mahasiswa yang ingin mengikuti volunteer. Saat pendaftaran, Aldo mengalami dilema besar untuk memilih posisi baru untuk di-explore atau posisi yang Aldo merasa lebih familiar.

Pernah nggak sih kalian ngalamin dilema orientasi kompetensi seperti Aldo?

Seorang mahasiswa yang dilema memilih ranah kontribusinya. Seorang freelancer yang dilema memilih apa saja spesialisasinya. Hal – hal seperti ini mungkin sering kali dirasakan dalam kehidupan sehari – hari kita. Mau mendalami satu skill aja, kok FOMO dan ngerasa ketinggalan dengan kesempatan yang lain. Tapi kalau explore banyak hal, kok seperti setengah – setengah dan nggak ada skill pegangan ya?

Sebenernya mana sih yang harus dipilih?

Sudahkah kamu mendengar istilah Generalist dan Specialist?

Generalist: Seseorang yang mengambil banyak peran dengan dalih ingin mempelajari berbagai macam skill dalam satu waktu tanpa mendalami sampai tahap benar-benar ahli.

Specialist: Seseorang yang memfokuskan kompetensi supaya bisa mendalami skill-skill tersebut sampai ke tahap profesional.

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing, loh!

Generalist
Specialist
  • Opsi dalam memilih job luas karena skill melimpah ruah
  • Bisa berpikir secara kreatif dan multidisipliner
  • Efisien dalam problem-solving
  • Cekatan dalam melihat peluang
  • Banyaknya demand spesialisasi dalam jangka panjang
  • Cenderung lebih sulit bekerja di dalam lingkungan yang fast-paced
  • Cenderung kurang kreatif dalam menyikapi masalah
  • Cenderung lebih sulit bekerja di dalam lingkungan yang slow-paced

Cukup nggak sih jadi salah satunya?

David Epstein dalam bukunya yang berjudul Range: Why Generalists Triumph in A Specialized World menyebutkan bahwa dunia membutuhkan kedua jenis tersebut.

David Epstein menyebutkan bahwa dunia memerlukan pendekatan dari prespektif yang berbeda, yaitu perspektif luas dan perspektif mendetail.

Bisa nggak sih cara dapet benefit keduanya?

Tentu saja! Terdapat jalan tengah yang bisa ditempuh dengan adanya dikotomi tersebut. Jalan tengah tersebut adalah dengan menjadi T-Shaped person.

T-Shaped Person

T-Shaped person merupakan seseorang yang memiliki pengetahuan serta skill yang tidak terlalu mendalam dalam berbagai bidang, akan tetapi juga memiliki keahlian dalam satu bidang tertentu. Dengan menjadi T-Shaped person, kamu dapat lebih explore minat ranah kontribusi di sekitar kamu dan pada saat bersamaan juga menggali bakatmu lebih dalam lagi! 

Manfaat dari menjadi T-Shaped person:

-    Mempunyai fleksibilitas tinggi karena wawasan yang luas

-    Baik dalam berkolaborasi dengan orang lain

-    Akan jarang merasa bosan karena selalu ada bidang lain

-    Meningkatkan kreativitas dan performa kerja

-    Resume lebih menonjol dari yang hanya monoton di satu bidang

Bagaimana sih cara menjadi seorang T-Shaped person.

1. Knowing yourself     

Identifikasi skill diri sendiri sangat penting! Dengan demikian kamu bisa menilai dirimu sejauh apa pada satu bidang.

2. Start with adjacent skill     

Mulai dari belajar skill yang “serupa tapi tak sama” dengan skill yang sudah kamu punya.

3. Be brave to do cross training     

Carilah tempat untuk belajar hal baru dan berkembang. Kamu pun harus berani berbagi ilmu dan mengajari mereka kemampuan yang sudah kamu miliki.

Fleksibilitas T-shaped people akan memberikan penunjang diri di era VUCA dengan kemampuan manajerial dan fungsional mereka yang baik. Menjadi T-Shaped person sudah menjadi langkah awal yang baik. Dengan pembelajaran dan pengalaman, T-shaped people dapat ditingkatkan menjadi Key-Shaped person, yaitu orang dengan bidang keahlian lebih dari satu. 

Akan tetapi tidak usah takut dan terburu-buru. Everyone has their own pace. Hal yang terpenting adalah fokus menjadi versi yang terbaik dari diri kita di setiap aktivitas yang kita jalani. 

Referensi:

Epstein, D., 2019. Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World.

Henke-von der Malsburg, J. and Fichtel, C., 2018. Are generalists more innovative than specialists? A comparison of innovative abilities in two wild sympatric mouse lemur species. Royal Society Open Science, 5(8), p.180480.

Knowledge@Wharton. 2019. Generalists vs Specialists: Why Jacks of All Trades Have an Edge. [online] Available at: <https://knowledge.wharton.upenn.edu/article/generalists-vs-specialists/> [Accessed 12 March 2021].

Teodoridis, F., Bikard, M. and Vakili, K., 2021. When Generalists Are Better Than Specialists, and Vice Versa. [online] Harvard Business Review. Available at: <https://hbr.org/2018/07/when-generalists-are-better-than-specialists-and-vice-versa> [Accessed 12 March 2021].

Tim penulis:Khansa Diandra Allysha, Muhammad Kafka Alghifari, Stevan Togar Pasaribu, Vinitta Vrillya Adiniezza

Sekretariat BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

#BirukanAsaCiptakanMakna

Copyright © 2021 BEM FT UI