{{brizy_dc_post_title}}

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Oleh: Selma Shafanisa D.

Sejak saya kecil, Kartini menjadi salah satu tokoh nasional perempuan yang menonjol di hidup saya. Salah satu kutipannya yang terus menyalakan api dalam diri saya adalah:

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dunia nenek moyangnya.”

Bagi saya, kutipan tersebut menggambarkan dengan jelas Kartini dan apa yang beliau perjuangkan. Pemikirannya mengubah masa depan perempuan Indonesia secara signifikan. Lantas, bagaimana putri Jepara ini dapat memiliki pemikiran dan semangat yang begitu maju pada waktunya?

Pada bukunya, ‘Door Dusternis Tot Licht’, Raden Adjeng Kartini pertama memperkenalkan dirinya sebagai seorang anak gadis sulung Bupati Jepara yang memiliki 5 orang saudara laki-laki dan wanita. Beliau mengaku ingin berbakti kepada pekerjaan dan perjuangan wanita seperti di Eropa, namun, merasa terhambat oleh adat istiadat yang telah ada selama berabad-abad. Kemudian, melalui usahanya dalam emansipasi dan pendidikan bagi perempuan, Kartini yang lahir pada 21 April 1879 kini menjadi simbol dari perjuangan emansipasi wanita di Indonesia.

Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui berbagai usaha dan pemikirannya, bahkan hingga hari lahirnya dirayakan setiap tahunnya sebagai pengingat perjuangannya. Kartini mendapatkan gelar tersebut dikarenakan pemikirannya yang maju dan visioner akan masa depan perempuan Indonesia. Sejak kecil, beliau memiliki privilese yang besar sebagai anak dari keluarga bangsawan, yaitu mendapatkan pendidikan. Kesempatannya menerima pendidikan menjadi titik awal Kartini menikmati kebebasan. Namun kebebasannya tidak bertahan lama karena diharuskan untuk berada di lingkungan pendoponya selama belum memiliki suami. Selama isolasinya beliau menghabiskan waktu membaca buku-buku Belanda dan bersurat-menyurat dengan kawan-kawannya di Belanda. Dengan kegiatannya tersebut, pemikirannya semakin diasah dan beliau semakin ingin untuk bebas agar bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Dengan privilesenya juga pada tahun-tahun terakhir hidupnya beliau mendirikan Sekolah Wanita. Untuk menghargai jasanya, tertanggal 2 Mei 1964 I.R. Soekarno menetapkan R. A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari besar Hari Kartini pada 21 April setiap tahunnya. Namun, apakah makna emansipasi wanita yang diperjuangkan Kartini dulu masih sama hingga kini?

Hari Kartini identik dengan emansipasi wanita. Emansipasi yang memiliki arti pembebasan dari perbudakan, serta persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan (KKBI) memiliki makna yang begitu penting dan signifikan di masa hidup Kartini. Adat istiadat di sekitar Kartini tidak jarang memposisikan beliau sebagai perempuan dibawah laki-laki. Namun, melalui kegemarannya membaca, Kartini menaruh perhatiannya pada persamaan hak dan kebebasan perempuan. Langkah pertamanya mengawali perjuangan emansipasi wanita pun dimulai melalui pendidikan. Langkah awal ini terbukti berdampak besar terhadap emansipasi wanita di Indonesia dengan berbagai pencapaian perempuan Indonesia kini.

Kini, semua warga negara berhak menerima pendidikan (Pasal 31 Ayat (1) UUD 1945). Bahkan ini didukung lagi dengan program wajib belajar 12 tahun. Pendidikan dapat dibilang menjadi gerbang utama perempuan dapat mengembangkan diri agar berkontribusi lebih dalam masyarakat. Melalui terbukanya pendidikan, banyak perempuan yang meraih kesuksesan dan pencapaian tinggi. Makin banyak wanita yang berperan penting seperti memegang tanggung jawab yang tinggi atau sebagai inovator atau pemimpin di komunitasnya. Selain itu, pendidikan bagi perempuan juga penting karena perempuan berperan besar di keluarga dalam mendidik generasi selanjutnya.

Meski telah banyak perkembangan dalam persamaan hak, kebebasan, otonomi, serta  kesetaraan di mata hukum bagi wanita, bukan berarti langkah emansipasi sudah berhenti cukup disini. Tidak sedikit anak-anak perempuan yang terhalang pendidikannya, terutama di daerah-daerah yang terpelosok atau masih kental dengan adat. Ada yang terpaksa berhenti karena ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Ada pula yang tidak dibolehkan melanjutkan sekolah dikarenakan stigma perempuan hanya mengurus rumah, atau bahkan terpaksa menikah dini. Selain dari sisi pendidikan, ketidaksetaraan juga masih terlihat dari kesenjangan upah antar gender dan partisipasi politik. Ditambah lagi, masih maraknya kekerasan terhadap perempuan, terbukti oleh Komnas Perempuan yang mencatat terdapat 299.911 kasus selama 2020 lalu. Emansipasi wanita di masa kini tidak jarang tertutupi oleh berbagai perkembangan. Padahal masih banyak lagi yang perlu ditingkatkan. Jika dulu Kartini berjuang bagi wanita untuk mendapatkan hak dan kebebasannya, makna emansipasi wanita sekarang masih sama dan justru lebih dalam lagi. Tidak hanya berfokus dalam menyetarakan hak antar gender, namun juga bagaimana perempuan bisa maju dan berkarya dengan bebas tanpa takut dan tanpa menghilangkan jati dirinya.

Hari Kartini kini tidak hanya untuk menghargai jasa R.A. Kartini, namun juga sebagai refleksi keadaan wanita di Indonesia. Apa yang diperjuangkan Kartini dulu masih harus diperjuangkan meskipun begitu banyak perkembangan dalam persamaan hak, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan di mata hukum. Hari Kartini menjadi bentuk memaknai dan meneruskan apa yang beliau perjuangkan: emansipasi wanita.

Referensi :

  1. Emansipasi (n.d). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. Diakses melalui https://kbbi.web.id/emansipasi 24 Maret 2021.
  2. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. 2020. Lembar Fakta dan Poin Kunci Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2020 Perempuan dalam Himpitan Pandemi:  Lonjakan Kekerasan Seksual, Kekerasan Siber, Perkawinan Anak, dan Keterbatasan  Penanganan di Tengah Covid-19. Diakses melalui https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/catahu-2020-komnas-perempuan-lembar -fakta-dan-poin-kunci-5-maret-2021 27 Maret 2021.
  3. Aprian, Dony. 2020. Biografi dan Sejarah Ditetapkan Hari Kartini yang Jatuh Setiap 21 April.  Diakses melalui https://regional.kompas.com/read/2020/04/21/07300051/biografi-dan-sejarah-ditetapkan-h ari-kartini-yang-jatuh-setiap-21-april?page=all 24 maret 2021
  4. Fitri, Dita. 2020. Eksistensi dan Emansipasi Wanita Masa Kini. Diakses melalui https://ibtimes.id/eksistensi-dan-emansipasi-wanita-masa-kini/ 24 Maret 2021.
  5. Rasyid, Shani. 2020. Mengenang Sosok Kartini, Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia  yang Mati Muda. Diakses melalui https://www.merdeka.com/jateng/mengenang-sosok-kartini-pelopor-emansipasi-wanita-ind onesia-yang-mati-muda.html?page=all 24 Maret 2021.
  6. Susanto, Septian. 2019. Menelaah Emansipasi dari Sosok Kartini. Diakses melalui https://www.its.ac.id/news/2019/04/21/menelaah-emansipasi-dari-sosok-kartini/ 24 Maret  2021.