Pemantik Diskantek: Kilas Balik 20 Tahun Reformasi

Pemantik Diskantek: Kilas Balik 20 Tahun Reformasi

Reformasi merupakan suatu gerakan yang menghendaki adanya perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional. Artinya, adanya perubahan kehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya yang lebih baik, demokratis berdasarkan prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Gerakan reformasi lahir sebagai jawaban atas krisis yang melanda berbagai segi kehidupan. Krisis politik, ekonomi, hukum, dan krisis sosial merupakan faktor yang mendorong lahirnya gerakan reformasi. Bahkan, krisis kepercayaan telah menjadi salah satu indikator yang menentukan. Reformasi dipandang sebagai gerakan yang tidak boleh ditawar- tawar lagi dan karena itu, hampir seluruh rakyat Indonesia mendukung sepenuhnya gerakan reformasi tersebut.

Dalam sejarah panjang Republik Indonesia, masa Orde Baru adalah masa selama hampir 32 tahun Soeharto menjabat sebagai Presiden. Banyak prestasi yang ditorehkan, namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa masa Orde Baru juga menyimpan banyak kejelekan, terutama di akhir masa pemerintahannya yang banyak terjadi demontrasi dan kerusuhan.

Bulan Juli 1997 terjadi krisis moneter di Thailand yang ternyata menjalar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia (Asvi Warman Adam, 2009:53). Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998, MPR walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Mereka berpikir hanya ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan.

Bukan hanya krisis ekonomi yang menyebabkan ketidakpuasan mahasiswa dan masyarakat untuk melakukan demontrasi, namun krisis multidimesional juga sangat mempengaruhi, diantara lain :

a)    Krisis Politik

Keadaan saat itu mengakibatkan munculnya rasa tidak percaya terhadap institusi pemerintah, DPR, dan MPR sehingga menimbulkan munculnya gerakan reformasi. Kaum reformis yang dipelopori oleh kalangan mahasiswa yang didukung oleh para dosen serta para rektornya mengajukan tuntutan untuk mengganti presiden, reshuffle kabinet, menggelar Sidang Istimewa MPR, dan melaksanakan pemilihan umum secepatnya. Masyarakat juga menginginkan agar dilaksanakan demokratisasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Di samping itu, masyarakat juga menginginkan aturan hukum ditegakkan dengan sebenar-benarnya serta dihormatinya hak-hak asasi manusia. Di dalam kehidupan politik, masyarakat beranggapan bahwa tekanan pemerintah terhadap oposisi sangat besar, terutama terlihat dari perlakuan keras terhadap setiap orang atau kelompok yang menentang atau memberikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah.

b)      Krisis Hukum

Pelaksanaan hukum pada masa pemerintahan Orde Baru terdapat banyak ketidakadilan. Misalnya, kekuasaan kehakiman yang dinyatakan pada pasal 24 UUD 1945 bahwa kehakiman memiliki kekuasaan yang merdeka dan terlepas dari kekuasaan pamerintah (ekskutif). Namun, pada kenyataanya kekuasaan kehakiman berada di bawah kekuasaan eksekutif. Oleh karena itu, pengadilan sangat sulit mewujudkan keadilan bagi rakyat, karena hakim harus melayani kehendak penguasa. Bahkan hukum sering dijadikan sebagai alat pembenaran atas tindakan dan kebijakan pemerintah. Seringkali terjadi rekayasa dalam proses peradilan, apabila peradilan itu menyangkut diri penguasa, keluarga kerabat atau para pejabat Negara.

c)     Krisis Ekonomi

Krisis ekonomi Indonesia berawal dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Ketika nilai tukar rupiah semakin melemah, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 0% dan berakibat pada iklim bisnis yang semakin bertambah lesu. Kondisi moneter Indonesia mengalami keterpurukan yaitu dengan likuidasinya sejumlah bank pada akhir tahun 1997. Dalam perkembangan berikutnya, nilai rupiah melemah dan menembus angka Rp 10000,- per dollar AS. Kondisi ini semakin diperparah oleh para spekulan valuta asing baik dari dalam maupun luar negeri yang memanfaatkan keuntungan sesaat, sehingga kondisi ekonomi nasional semakin bartambah buruk. Memasuki tahun anggaran 1998/1999, krisis moneter telah mempengaruhi aktivitas ekonomi lainnya. Banyak perusahaan yang tidak mampu membayar utang luar negerinya yang telah jatuh tempo. Bahkan, banyak perusahan yang mengurangi atau menghentikan sama sekali kegiatannya. Angka pengangguran meningkat, sehingga daya beli dan kualitas hidup masyarakat pun semakin bertambah rendah. Kondisi perekonomian semakin memburuk karena pada akhir tahun 1997 persediaan sembilan bahan pokok (sembako) di pasaran mulai menipis. Kelaparan dan kekurangan makanan mulai melanda masyarakat, seperti di Irian Barat, Nusa Tenggara Timur, dan termasuk di beberapa daerah di Pulau Jawa. Faktor lain yang menyebabkan krisis ekonomi Indonesia tidak terlepas dari masalah utang luar negeri, penyimpangan terhadap Pasal 33 UUD 1945, dan pola pemerintahan yang sentralistik.

d)    Krisis Kepercayaan

Krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia telah mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto.

Faktor-faktor itulah yang menuntut dan menarik simpati mahasiswa dan masyarakat untuk melakukan gerakan yang bermodalkan kesadaran kritis, mahasiswa menyatakan keprihatinannya dan keberpihakan kepada penderitaan rakyat. Mereka juga rela berkorban jiwa raga demi Indonesia baru yang demokratis dan lebih baik. Begitu proses transisi selesai, dengan tertib mahasiswa turun panggung. Pengemban sejati amanah rakyat.

Tahun 1998 merupakan salah bagian terpenting dalam periodesasi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa menjadi salah satu pelopor gerakan jalalan guna menumbangkan rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Agenda “total reform”, merupakan jargon yang paling kerap kali didengar di perjuangan kalangan mahasiswa pada waktu itu. Dengan berbagai tuntutan perubahan di segala bidang, banyak hal dikorbankan mahasiswa, termasuk korban nyawa, diantaranya meninggalnya mahasiswa Trisakti yang mana, penyelesaian kasusnya tidak pernah terungkap ke publik sampai hari ini. Pertanyaan yang kelak hadir saat ini adalah apakah reformasi kini terasa benar-benar berdampak bagi kehidupan di Indonesia? Bagaimana kondisi Indonesia pasca reformasi? Lalu, bagaimana cara sebagai mahasiswa untuk tetap menjaga semangat juang reformasi dan menjaga Indonesia saat ini?

 

 

IMG_6287

 

Ingin tau mengenai reformasi lebih dalam? Hadirilah Diskantek yang akan dilaksanakan pada :

Hari, tanggal: Senin, 14 Mei 2018
Tempat: Kantek Dalam
Pukul: 16.00 WIB
Pembicara :
1. Sri Lestari Wahyuningroem
(Peneliti dan Dosen Ilmu Politik UI, Aktivis HAM, Peraih Gelar Master of Arts dalam Teori Politik tahun 2004)
2. Salah satu anggota keluarga Yap Yun Hap (masih dalam konfirmasi)

Kajian dan Aksi Strategis
BEM FTUI 2018
#DariTeknikuntukIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *