KANTEK KITA

Ada apa dengan Kantek?

Belum lama ini terdengar oleh kita sebuah isu yang cukup dekat dengan anak teknik mengenai kantek, Sebuah surat edaran yang ditujukan kepada para pedagang pun tersebar dikalangan mahasiswa.

Namun apa yang sebenarnya terjadi?

Kami dari BEM FTUI 2015 telah mengadakan forum diskusi dengan pedagang pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2015. Secara garis besar ada tiga poin penting yang menjadi masalah dari surat tersebut:

  1. Menu di Kantek
  2. Biaya baru
  3. Peraturan baru

Berikut pembahasan dari setiap poin yang ada.

1. Menu di Kantek

Perlu kita ketahui bersama bahwa isu terkait kantek ini bukanlah terkait pedagang boleh kembali berdagang lagi atau tidak. Namun beberapa menu yang tidak lolos uji kesehatan dari FKM UI tidak boleh dijual kembali, dan para pedagang diharuskan untuk mengganti menu yang bermasalah tersebut, Adapun uji kesehatan yang dilakukan untuk menguji kandungan bakteri E.Coli, Salmonella, dan boraks. Uji pertama telah dilakukan pada tahun 2013 dan dari pengujian pertama hingga sekarang, para pedagang terus memperbaiki pengolahan makananannya Jadi tidak perlu khawatir, karena para pedagang juga akan terus memperbaiki makanannya demi kesehatan kita bersama.

Beberapa hal penting dari penjelasan poin pertama ini:

  • Menunggu hasil uji yang dilakukan FKM UI
  • Bekerja sama dengan mahasiswa FKM UI untuk mengadakan uji mandiri kepada pedagang dan melakukan penyuluhan
  • Memberi saran terkait menu baru yang laku dikalangan mahasiswa

2. Biaya baru

Dari surat yang diedarkan oleh dekanat, untuk memperpanjang kontrak baru, pedagang diharuskan menyelesaikan semua bayaran selama 2014 termasuk listrik, kebersihan, dan kontrak setahun. Selain itu para pedagang juga harus membayar biaya untuk kontrak baru selama 2015 untuk 6 bulan. Jadi secara total para pedagang harus membayar untuk 1 tahun dan 6 bulan, dan dirasa hal ini memberatkan pedagang ketika hal ini dibebankan pada masa liburat dimana pemasukan pada waktu tersebut lebih minim.

Pedagang menginginkan agar pembayaran yang 6 bulan 2015 bisa ditangguhkan lebih dahulu ketika penjualan sudah normal seperti biasa. Selain itu dengan adanya sistem pembayaran terpusat yang direncanakan dekanat, para pedagang diharuskan menerapkan bagi hasil sebanyak 10% kepada pihak dekanat, dan hal ini juga masih memberatkan pedagang.

Beberapa hal penting yang dapat diambil dari poin kedua ini:

  • Pembayaran berat ketika dijadikan satu seperti sesuai dengan surat yang diedarkan
  • Kejelasan rincian biaya pembayaran 6 bulan 2015
  • Dialog antara pihak dekanat dan pedagang

3. Peraturan Baru

Bertambahnya beberapa peraturan baru yang akan diterapkan dekanat masih banyak yang harus dipertanyakan kejelasannya dan tujuannya. Misalnya adalah dengan adanya larangan untuk menggoreng, merajang, dan membakar makanan. Dengan alasan untuk meminimalisir penggunaan gas dan mengurangi polusi dari gas dan hasil pengolahan tersebut. Namun dekanat FTUI tetap memperbolehkan merebus makanan menggunakan gas. Lalu dengan adanya pelarangan tersebut, makanan dikantek akan menjadi makanan siap saji yang tidak fresh dan dihangatkan melalui microwave. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan dekanat yang ingin menjadikan makanan di kantek tetap sehat dan terjaga higienisnya. Lalu masih ada beberapa peraturan lain yang masih perlu ditanyakan kejelasannya, seperti bagi hasil 10%, pembatasan peralatan yang dibawa oleh pedagang seperti lemari atau rak, dan larangan menjual di hari sabtu.

Berikut beberapa hal penting dari poin ketiga ini:

  • Beberapa peraturan harus dipertanyakan tujuannya dan kejelasannya
  • Fasilitas apa yang diberikan dekanat untuk pedagang

Secara keseluruhan dari poin-poin yang dipaparkan diatas memang cukup memberatkan pedagang. Lalu apakah mahasiswa hanya diam saja dan tidak melakukan apapun? Jawabnya cukup sederhana, yaitu kita harus tetap menumbuhkan kesadaran kita terkait kebersihan kantek. Karena jika kita sadari, beberapa peraturan yang dibebankan kepada para pedagang adalah demi terciptanya kantek yang bersih. Dengan adanya pedagang ataupun OB bukan berarti kita bisa meninggalkan bekas makanan dan sampah seenaknya saja. Kita harus bisa membantu mereka dengan mengembalikan piring dan bekas makanan kita ke tempat yang telah disediakan atau dikembalikan ke counternya. Serta sampah bekas makanan dan minuman yang kita konsumsi juga harus kita buang ke tempat yang telah disediakan.

Ya, semua ini bukanlah hanya untuk pedagang kantek, dekanat, ataupun OB semata. Namun ini juga untuk kebersihan kantek kita dan kenyamanan serta kesehatan kita sebagai mahasiswa.

#KantekKita

BEM FTUI 2015

#KitaUntukTeknik

 

kantek kita

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *